
Tradisi Lempar Bayi dari Kuil: Tradisi Ekstrem yang Masih Hidup di India
Habered – Tradisi lempar bayi dari atas kuil setinggi sembilan meter masih berlangsung di desa kecil Musti, negara bagian Karnataka, India. Meski terdengar ekstrem bagi banyak orang, praktik ini diyakini telah dilakukan selama lebih dari 700 tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan lokal.
Tradisi ini melibatkan seorang pendeta yang melempar bayi dari atap kuil ke arah kain besar yang dibentangkan oleh sekelompok pria di bawahnya. Setelah berhasil ditangkap dengan selamat, bayi tersebut kemudian dikembalikan ke orang tuanya, diiringi dengan sorak sorai dan doa-doa.
Bagi para penganutnya, ritual ini bukan sekadar aksi fisik, melainkan simbol pengabdian dan kepercayaan mendalam kepada Tuhan. Tradisi lempar bayi ini konon dimulai ketika seorang dukun atau imam menyarankan tindakan ekstrem tersebut kepada pasangan yang mengalami kesulitan memiliki keturunan. Setelah melakukan ritual, pasangan itu akhirnya diberkahi anak.
“Baca Juga: Skulls as Trophies, Praktik Kuno Mengambil Tengkorak Manusia sebagai Simbol Kekuasaan”
Sejak itu, praktik ini berkembang menjadi ritual tahunan yang dipercaya membawa keberuntungan dan kesehatan. Selain itu, juga masa depan cerah bagi bayi yang dijatuhkan. Mayoritas peserta berasal dari keluarga Hindu dan Muslim di daerah tersebut.
Meskipun tidak ada laporan resmi mengenai bayi yang terluka dalam ritual ini, banyak pihak, termasuk aktivis hak anak dan organisasi internasional, mengecam keras tradisi tersebut. Mereka menganggap praktik ini berbahaya dan melanggar hak anak atas keselamatan dan perlindungan.
Pada tahun 2009, video viral tentang ritual ini memicu gelombang kemarahan dan menarik perhatian media internasional. Komisi Nasional untuk Perlindungan Hak Anak India (NCPCR) pun turun tangan dan sempat melarang praktik tersebut. Namun, tradisi tetap dilanjutkan secara diam-diam, dengan pengawasan ketat dari komunitas lokal.
Fenomena ini mencerminkan titik temu antara tradisi kuno dan tantangan nilai-nilai modern. Di satu sisi, masyarakat setempat melihatnya sebagai bagian dari identitas spiritual dan budaya yang telah diwariskan lintas generasi. Namun di sisi lain, dunia modern semakin menuntut agar setiap praktik budaya tetap menghormati keselamatan dan hak asasi manusia, terutama anak-anak.
Tradisi lempar bayi dari kuil ini mungkin terdengar mengejutkan bagi dunia luar. Namun, bagi masyarakat Musti, ini adalah simbol dari kepercayaan yang mendalam, meski harus terus berdialog dengan zaman yang berubah.
“Simak Juga: Kemenkes Bicara Soal Krisis Dokter di Indonesia, Begini Kondisinya”
Habered - Catatan tahunan Setara Institute 2023 mencatat 336 kasus pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia, menandakan urgenitas memperkuat toleransi keagamaan…
Habered - Penemuan arkeologis terbaru di situs Göbekli Tepe, Turki, telah mengguncang dasar pemahaman kita tentang sejarah manusia. Analisis karbon…
Habered - Data terbaru dari Pew Research Center 2023 mengungkap sebuah paradoks yang mengganggu, di mana 80% populasi global masih…
Habered - Data terbaru dari Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 50 negara mengalami peningkatan ketegangan sosial…
Habered - Indonesia masih memegang teguh predikat sebagai negara dengan keragaman agama terbesar di dunia meski tantangan global menghimpit. Laporan…
Habered - Laporan terbaru Pew Research Center pada 2023 memproyeksikan bahwa populasi Muslim akan menyamai jumlah populasi Kristen secara global…
This website uses cookies.